Now Playing Tracks

Cinta saat berbeda menyebut nama Tuhan.

 Kamu tentu tahu aku mencintaimu.

Hingga aku harus melawan semua norma yang ada

Hingga aku harus menutup telingaku.

Pada setiap cercaan dan makian

 

Kamu pasti mengerti.

Banyaknya masalah yang harus aku salami.

Hanya untuk bersatu denganmu.

Untuk bisa merengkuh setiap jengkal pelukmu.

 

Kamu pasti memaklumi jika aku mencintaimu.

Walau tasbih ku berbeda dengan kalung salib mu.

Walau kitabku berbeda dengan kitab bacaanmu.

Salahkah perbedaan itu sayang?

 

Dosakah kita jika hanya ingin memperjuangkan cinta?

Patutkah cinta kita dibela saat semua orang berkata hina?

Ceritakan pada mereka, sayang. Bahwa kita bahagia.

Katakan pada mereka, sayang. Bibir kita tak berdusta.

 

Bibirku dan bibirmu tak seperti bibir mereka.

Yang senang merajam sumpah serapah.

Yang senang menuduh jenuh.

Ceritakan pada mereka tentang kebahagiaan kita.

Biarkan mereka diam membungkam!

Biarkan mereka bungkam!

 

Sajak yang ku buat.

Setelah ayahku menyiksa tubuh mungilku.

Karna tahu tentang cinta yang aku sembunyikan selama ini.

Cinta yang berbeda saat menyebutkan nama Tuhan.

 

Kami hanya membiarkan cinta kita berkembang.

Berkembang tanpa batas.

Norma yang menghalangi.

Norma pula yang memisahkan.

 

Disudut kamar gelap dengan berteman sepi.

Angin malam yang berhembus lewat jendela.

Seakan menjadi teman.

Saat air mataku jatuh tak dapat lagi dibendung.

 

Semakin malam semakin teringat.

Setiap siluet tubuh nya.

Yang sekarang tak dapat ku temui.

Hanya dapat memeluk bayang semu dirinya.

Aku ingin bertemu kamu.

Ingin berdoa bersama-sama.

Meski kita berbeda.

Berbeda dalam menyebut nama Tuhan.

 

Malam ini, 4 Agustus 2011.

Aku hanya bisa melamun, terdiam.

Sosok dirimu semakin menjadi nyata di otakku.

Memuatku terbuai dalam lamunanku mala mini.

 

Terlintas dilamunan saat aku dan dia berdoa bersama.

Dimana perbedaan tak dijadikan masalah.

Tuhan kami sama.

Hanya berbeda saat  menyebutnya.

 

Saat itu, 5 Juni 2011.

Saat pertama kami berdoa bersama.

Berdoa kepada Tuhan yang sama.

Karna kami telah bersatu.

 

“Aku percaya kepada allah. Bapa yang maha kuasa. Khalik langit dan bumi. Kepada Yesus kritus. Anaknya yang tunggal Tuhan kita”

 

Ucap kekasihku.

Disudut sepi sebuah gereja yang kudus.

Semua orang yang ada disitu.

Berdo’a dengan khusu nya.

 

“Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirabbilalamin”

 

Lembut nya suaraku itu mengalun.

Menambah suasana khidmat saat itu.

Ketenangan didapat.

Seakan berbicara sendiri bersama Tuhan.

 

“Yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak Dara Maria. Yang menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatius, Disalibkan, Mati, Dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut”

 

Lanjut kekasihku dengan mata tertutup.

Dia seakan sangat menikmati.

Persekutuannya dengan Tuhan.

Mendengar pengakuan iman rasuli dari bibirnya.

 

“Arrahmanirrohim, malikiyau middiin”

 

Bibirku itu masih saja mengimit haru.

Membayangkan Tuhan sedang menatapku.

Wajahku yang begitu cantik bercahaya.

Seusai dibasuh oleh air wudhu.

 

“Pada hari ketiga, bangkit pula dari antara orang yang mati. Naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah. Bapa yang maha kuasa. Dan disana Ia akan duduk menghakimi orang yang hidup dan mati”

 

Perlahan-lahan kekasihku itu semakin tenggelam.

Dalam suasana kudus dan menyegukkan.

Seakan tubuhnya sedang dipeluk seseorang.

Dengan begitu hangat.

 

“Iyya kana’buduwa iyya kannas ta’im. Ikhdinassiratall mustaqiim”

 

Aku mengarahkan hatiku pada Tuhan.

Tuhan semakin tersenyum lebar.

Melihat umat-Nya Semakin mencintai-Nya.

Dan menyadari keberadaan-Nya yang nyata.

 

“Aku percaya pada rok kudus. Aku percaya pada gereja dan am, Persekutuan orang kudus. Pengampunan dosa. Kebangkitan daging, dan hidup yang kekal”

 

Hatinya bergetar, bibirnya berkata-kata.

Kekasihku merasakan kehadiran Tuhan disisinya.

Kekasihku merasa Tuhan sangat dekat dengannya.

Bahkan merasa Tuhan sedang memeluknya.

 

“Siratalladzi na’an am ta’alaihim ghairil maghdu bi’alaihim waladzolim. Amin”

 

Aku mengadahkan kepalaku.

Hatiku bergetar dengan hebat.

Aku rasakan kembali kehadiran-Nya.

Bahkan sangat lekat.

 

Kekasihku menduduki bangkunya.

Sambil menatap liturgi tempat ibadah.

Hatinya berbicara.

Hatinya mendesah.

 

“Lindungi kekasihku, yang sedang berada di mesjid kali ini, Tuhan. Percayalah, dia juga mencintai-Mu. Dia hanya menyebut namaMu dengan sebutan yang berbeda.”

 

Akupun mengucap surat Al-Ikhlas.

Hatiku tergetar.

Doa yang lirih.

Terdengar dari hatiku.

 

“Ya Allah, kekasihku sedang berada di gereja, apa kau tahu? Diapun juga mencintai-Mu sama seperti aku. Meski tempat ibadah nya berbeda dengan tempat ibadahku.”

 

Kekasihku melanjutkan ibadahnya.

Memuji Tuhan dengan hati tulusnya.

Aku bersujud menyembah.

Memuja Tuhan dengan hati yg seluas samudra.

Dalam hati kami.

Kami mengemit resah.

Meminta restu kepada-Mu.

Tuhan kami meski berbeda sebutan.

 

“Apa Tuhan melihat kisah kita? “

 

Suara petir yang begitu keras.

Petir yang bergemuruh.

Membuyarkan lamunanku.

Tentang doa ku dan doa kekasihku.

 

Aku menangis.

Meratapi kisah cinta yang menyedihkan.

Aku mengenal kembali kesepian.

Karna ayahku mengurungku di kamar kumuh ini.

 

Kamar gelap yang sangat lekat dengan kesepian.

Sangat lekat dengan kesendirian.

Kesedihan dan air mata seakan menjadi sahabatku sekarang.

Kegelapan membuatku semakin prihatin dengan keadaanku.

 

Hujanpun turun dengan derasnya.

Apakah kamu merasakan rinduku?

Yang turun bersama turun bersamaan dengan hujan.

Dan mengetuk genting rumahmu dengan air hujan ini.

 

Aku hanya bisa terdiam.

Didepan jendela kamarku.

Berharap kamu datang.

Membawa kebahagiaanku kembali.

 

Aku terlalu menikmati malam.

Pagi datang dengan cepat.

Ayah menggedor pintu kamarku.

Rasa takut bergelayun didalam diriku.

 

Ayah mendobrak pintu dengan keras.

Ayah menyiksaku.

Ayah tidak ingin aku ada komunikasi.

Dengan kekasih yang aku cintai.

 

Suara ayah yang menggelegar di setiap sudut kamar.

Membuatku menangis sejadi jadinya.

Ayah seperti penjajah belanda yang ingin menjajahku mati-matian.

Aku lemah tak berdaya.

 

Ayah meninggalkan aku.

Hanya ada handphone, Al-Qur’an dan alat sholat.

Matahari sudah tepat ada diatas rumahku.

Aku lekas tayamum.

Ayah mengunci kamarku.

Debu di sekitar kamar menjadi jembatan saat ini.

Agar aku bisa bercerita kepada Tuhan.

Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang.

 

Aku sangat khusu saat berhadapan dengan nya.

Tak kuasa aku serahkan seluruh ragaku hanya untuk-Mu.

Aku menyelesaikan ibadahku untuk-Mu.

Aku mengadahkan tangan dan bercerita bersamamu.

 

“Ya Allah biarkan aku merasakan kebahagiaanku kembali bersama kekasihku. Kami sama-sama menyayangi-Mu. Mencintai-Mu. Tuhan kami sama. Tuhan kami engkau. Kami hanya mempunyai sebutan masing-masing untuk menyebut namanu. Biarkan kami bersama kembali ya Allah. Amin”

 

Handphone ku berbunyi membuatku tersentak.

Telepon dari seseorang yang aku tunggu.

Kekasihku!

Aku mengangkat nya.

 

Aku rindukan suara ini.

Suara yang membuatku merasakan ketenangan.

Dia memanjakan ku meski hanya lewat udara.

Senyum ini muncul kembali.

 

Tuhan mendengar do’a ku.

Tuhan hadirkan dia meski hanya lewat udara.

Tuhan sayang kepada kami.

Sayang kepadaku dan kekasih ku.

 

Aku terkejut!

Belum semua rindu yang aku sampaikan.

Komunikasi terputus.

Aku menunggu telepon nya bordering kembali.

 

Menunggu.

Aku hanya bisa menunggu.

Tanpa menghiraukan apapun.

Tanpa memikirkan apapun.

 

Hari ini, 7 Agustus 2011

Tiga hari sudah berlalu.

Tak ada kabar dari kekasihku.

Maka tak ada sedikitpun senyum dibibirku.

 

Aku melihat ayah pergi dari jendela kamarku.

Aku tenang karna aku tak akan merasakan linu di tulangku.

Karna ayah tak akan menyiksa tubuh mungilku ini.

Yang sudah banyak memar karna siksaan ayah.

 

 

Dedaunan jatuh seakan tak ada dahan yang membuatnya tertahan lagi.

Burung enggan berkicau seakan ikut berduka karna keadaan ku akhir-akhir ini.

Bahkan matahari pun enggan muncul akhir-akhir ini.

Hanya hujan yang ada seakan bumi dan cuaca tau apa yang aku rasakan.

 

Aku mendengar seperti ada bunyi seseorang yang mengetuk pintu.

Aku buka pintu kamarku yang tercipta dari kayu tua.

Yang mengeluarkan decitan saat aku membuka nya.

Aku bergegas keluar dari kamar gelap yang selalu menemaniku.

 

Aku menuruni anak tangga yang seakan rindukan pijitan kakiku di tubuhnya.

Aku bergegas menuju suara ketukan pintu itu.

Aku membukanya dan ternyata pak  pos.

Menyampaikan surat dari kekasihku.

 

Aku berterimakasih dan bergegas pergi ke kamar gelapku lagi.

Aku takut ayah tahu aku menerima sepucuk surat dari kekasihku.

Aku mengunci kamarku dan aku menyiapkan diriku.

Untuk membacak sepucuk surat dari kekasih kesayanganku.

 

“Tiga hari yang lalu suaramu mengalir begitu lembut dari sambungan telepon seluler. Entah sudah berapa minggu kita tak bertemu. Entah sudah berapa hari aku dan kamu terpaksa tak saling menatap dan memandang. Karna takdir sedang memainkan perannya. Karna nasib sedang meneguhkan langkahnya. Aku dan kamu tak bisa apa-apa. Terutama saat semua orang menganggap kita salah. Terutama saat aku dan kamu dianggap melanggar norma agama, saat kita layaknya tahanan cinta yang menyerah pada hukum agama. Terang takan pernah bisa menyatu dengan gelap.

 

Kau ingin tahu satu hal tentangku? Aku sangat merindukanmu. Aku rindu saat kamu menungguku di depan gereja seusai misa pagi. Aku rindu saat kita makan mie ayam kesukaan kita. Aku rindu saat menunggu mu selesai sholat di mesjid. Aku rindu melihat wajah cantik mu yang terlihat bercahaya seusai membasahinya dengan air wudhlu. Aku suka senyum mu yang bersimpul dibalik bibir mungilmu. Sungguh aku sangat rindu pertemuan kita, aku sangat rindu menghabiskan waktu bersamamu. Dan entah mengapa kebahagiaan itu semakin pudar saat hadir orang-orang yang tak mengerti dan tak paham dengan keadaan kita. Maukah kau katakana pada mereka yang membenci kita? Bahwa sebenarnya kita bukan pendosa. Maukah kau meyakinkan mereka? Bahwa aku dan kamu tak sehina yang mereka pikirkan. Haruskah kita mengakhiri semua yang nyatanya kebahagiaan selalu hadir didalam hubungan kita? Haruskah kita menyerah pada persepsi yang mengatakan bahwa kita salah? Haruskah kita berpisah karnah kita berbeda agama? Apa salahku dan apa salahmu?

 

Aku mengenalmu sebagai sosok yang tegar dan kamupun mengenalku sebagai sosok yang gigih. Selama kita bersama tidak pernah terlihat air mata jatuh setitikpun. Tapi, ternyata pada akhirnya kita menyerah, menyerah pada takdir yang awalnya mempertemukan kita dan akhirnya memisahkan kita. Apakah hatimu patah? Apakah sayap-sayapmu yang dulu sempat memelukku juga patah? Apakah ada air mata yang luruh dari matamu yang indah? Aku tak tahu mengapa norma agama harus membedakan kita. Sehingga aku dan kamu memiliki sekat dan jarak, membuat kita terlihat tak lagi sama, membuat kita terpaksa berpisah. Sebenarnya apa salahku dan apa salahmu? Karna kita tak pamer kemesraan semerti pasangan-pasangan tolol lainnya. Kita juga tak membuat video mesum sebab terjadinya zinah. Kita tak melanggar norma asusila, tapi kenapa dimata semua orang kita terlihat seperti sampah?

Sayang, sungguh aku tak ingin tersiksa seperti ini. Sungguh aku tak ingin perpisahan kita menjadi sebab tangisku dan tangismu. Aku ingin semua seperti dulu. Aku ingin tawa renyah mu dan senyum manismu menghiasi mozaik hari-hariku. Kebahagiaan kita terenggut oleh sesuatu yang kita sebut norma. Sesuatu yang seharusnya mengatur tapi malah menyakiti kita. Sebenarnya mereka yang menyalah kan kita adalah mereka yang tak benar-benar mengenal kita. Tugas cinta adalah menyatukan, salahkah jika cinta menyatukan kita yang berbeda? Bukankah kita hanya saling jatuh cinta? Bukankah kita hanya makhluk  kecintaan Tuhan yang belajar untuk menyentuh cinta? Apa yang salah, sayang? Katakan apa yang salah!!

 

Aku menulis surat ini sesaat sebelum pengakuan dosa. Pastor sudah berada didalam ruangan. Aku masih diluar masih menormalkan frekuensi detak jatungku yang kian menit tak berirama. Dengan menulis ini mungkin aku bisa sedikit tenang. Aku mungkin akan bercerita banyak pada pastor, air mataku mungkin akan kembali menetes, dan berkali-kali mungkin aku akan mengulang cerita yang sama, cerita tentangmu. Didalam ruang pengakuan dosa, mungkin aku akan mengakui banyak dosa yang sudah aku lakukan. Dan mungkin dosa yang ku akui pertama kali adalah mencintaimu. Mencintai dosa termanisku.”  

 

Aku hanya bisa diam.

hidup ini sungguh aneh dan tidak adil

suatu kali hidup melambungkan mu setinggi langit,

kali yang lainnya menghempaskan begitu keras ke dasar bumi.

 

aku menyadari dia adalah satu-satunya

yang paling aku butuhkan di hidup ini,

kenyataan berteriak di telingaku

kalau dia juga satu satunya orang yang tidak boleh aku dapatkan.

 

kata-kata ku mungkin tidak masuk akal

bahkan konyol tapi percayalah

aku rela melepaskan apa saja melakukan apa saja

asal bisa bersamanya,

 

tetapi apakah manusia bisa mengubah kenyataan?

kalian tahu? satu-satunya yang bisa ku lakukan sekarang

adalah keluar dari hidupnya.

aku tidak melupakan dirinya,

 

tetapi aku harus melupakan perasaanku padanya

walaupun itu berarti aku harus menghabiskan sisa hidupku

mencoba melakukannya. pasti butuh waktu lama

sebelum aku bisa menatapnya

 

tanpa merasaskan apa yang kurasakan setiap kali aku melihatnya.

mungkin suatu hari nanti

aku tidak tau kapan rasa sakit ini akan hilang

dan baru kamu akan bertemu kembali~

 

sekarang saat ini saja

untuk beberapa detik saja

aku ingin melupakan semua orang,

mengabaikan dunia

 

melupakan asal usul serta latar belakangku,

tanpa beban, tuntutan, ataupun harapan,

aku ingin mengaku.

aku mencintainya ~

 

 

                        ************* ******************** *********************** **************

Setauku ini semua tentang AKU,KAMU&KITA!

 Rasanya semua terjadi begitu cepat. Sangat cepat. Aku dan kamu bertemu, rasa kagum ku terhadap dirimu begitu kuat, begitu besar, seakan aku tak dapat menghindari nya. Aku merasakan perasaan yang aneh, perasaan yang berbeda dari hari-hari biasa nya sebelum aku mengenal sosok dirimu. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna saat sosok dirimu merasuk ke dalam kehidupan yang sebelum nya hanya berteman dengan sepi. Tak ada percakapan yang biasa saat aku dan kamu saling melontarkan selentingan perhatian disetiap obrolan nya. Seakan semua ajaib dan sangat luar biasa. Entah apa yang sebenarnya aku rasakan. Perasaan ini berkembang melebihi batas yang kutau.

 Aku jadi takut kehilangan mu. Takut kehilangan sosok dirimu yang bahkan bukan milik ku seutuh nya. Siksaan datang bertubi-tubi ke dalam diriku saat kamu tak berada disampingku, tak berada di dekatku, tak terlihat oleh pandanganku. Ada sebab yang tak dapat aku mengerti, aku sulit jauh dari dirimu. Aku membutuhkan mu seperti aku membutuhkan udara untuk bertahan hidup. Napas ku akan tercekat jika kamu menghilang dari pandangan ku. Apa sikap ku salah saat kamu aku nomor satu kan?

Aku melihat harapan, aku melihat masa depan, aku melihat keindahan, ketenangan, aku melihat semua nya dari mata indah yang biasa menatap ku dengan tajam nya. Kamu begitu indah, terlalu indah untuk ku. Aku ingin memiliki mu seutuh nya, percayakan aku untuk menjadi seseorang yang pertama kali mengucapkan selamat pagi saat kau terbangun dari tidur mu. Aku ingin menjadi bagian dari dirimu, dari hidupmu.

Akhirnya, aku mendapatkan mu. Setelah semua usaha dan pengorbanan yang aku tunjukan hanya untuk membuktikan bahwa akulah seseorang yang benar-benar mencintai kamu, mencintai sosokmu dan menginginkan kebahagiaan selalu ada di dalam kehidupan mu. Kini, aku dan kamu sudah menjadi kita. Aku hanya ingin tetap menjadi kita tanpa ada campur tangan dia, dan campur tangan mereka. Karna aku hanya ingin bersama mu, bersama dirimu sampai Tuhan sendiri yang memisah kan kita hanya dengan kematian.

Sayang, inilah caraku melindungi mu. Dengan begitu gila nya aku mengkhawatirkan mu, padahal kutahu kamu bisa melindungi dirimu sendiri, kau bias membela dirimu sendiri tanpa harus ada pembelaan dari diriku. Aku terlalu rajin jika harus bertanya siapa saja wanita yang menghubungi mu, siapa saja wanita yang mendekati mu dan siapa saja wanita yang bersosialisasi dengan mu lewat jejaring social. Mungkin kamu risih aku memperlakukan mu seperti seorang anak kecil yang dibatasi ruang bermain bersama lingkungan bahkan bersama teman-teman mu sendiri. Posessif, itu adalah cara ku mencintaimu, melindungimu, dan menjaga mu agar tetap bersama ku. Disampingku! Kau sering membandingkan ku dengan beberapa wanita di masa lalu mu yang dulu sempat membuatmu bahagia. Beberapa wanita yang dulu berjanji membahagiakan mu tapi mereka sekarang meninggalkan mu. Lihatlah! Sekarang kamu memilikiku, dengan segala keterbatasan dan segala kemampuanku. Detik ini, bisakah kau mengerti sedikit saja? Bahwa aku memiliki banyak kelebihan, tapi satu kekuranganku yang tak kau suka adalah melindungimu dengan cara yang salah, tapi aku selalu berharap aku tak pernah mencintaimu dengan cara yang salah.

Tapi, entah mengapa sikapmu sekarang tak seperti sikapku. Perhatianmu tak sedalam perhatianku, tatapanmu tak setajam tatapanku, adakah kesalahan diantara aku dan kamu? Apa kamu merasa bosan bersamaku? Pandanglah aku yang mencintaimu dengan tulus namun kau hempaskan aku dengan begitu bulus. Apakah aku hanya persimpangan jalan yang selalu kau abaikan juga kau tinggalkan? Kau memlilih mengakhiri hubungan ini, mengakhiri harapan yang sudah kita bangun bersama untuk kehidupan kita di masa depan kelak. Aku tak bias apa-apa selain memandangimu yang pergi menjauh dari hadapanku setelah kamu memilih perpisahan menjadi jalan terbaik nya.

Sadarkah jemarimu selalu melukai hati kecilku? Ingatkah perkataanmu yang selalu menghancur leburkan mimpi-mimpi indahku? Apakah aku tak pantas bahagia bersamamu? Terlalu banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan kepadamu. Aku muak. Aku masih mencintaimu yang belum tentu masih mencintaiku. Aku mengagumimu yang belum tentu paham dengan rasa kagumku. Sebenarnya aku hanya ingin tahu dimana kau letakkan hatiku yang selama ini telah aku berikan padamu? Kamu pasti enggan menjawabnya karna kamu tak mau dan tak akan pernah mau untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam hatiku, didalam perasaanku!

Aku sudah tahu perpisahan yang kau ciptakan adalah sesuatu yang terbaik yang sudah Tuhan rencanakan untukku. Aku mengerti kalau kamu sudah mempersiapkan seseorang yang jauh lebih baik dari diriku. Kamu sudah menemukan penggantiku, entah lebih baik atau bahkan lebih buruk. Atas alas an apapun aku harus turut bahagia atas apa yang kau dapatkan, karna kau tah harus merasakan kesedihan seperti apa yang aku lakukan beberapa terakhir ini.

Tuhan, aku tak pernah tega melihat kesayangan dan kecintaanku terluka seperti luka yang belum kering di dadaku ini. Aku hanya ingin kebahagiaan nya terjamin oleh-Mu. Dengan atau tanpa aku. Tuhan, aku ingin meminta kekuatan, kekuatan saat aku melihatnya bersama kekasih barunya.

Aku sibuk merapihkan dan menyatukan kembali kepingan hatiku yang sudah kau hancurkan hanya dengan sekejap. Aku senang berada di tengah rimbun nya percikan air hujan yang menari dengan jinjit saat hujan besar mengguyur semesta ini. Aku bisa berteriak meluapkan semua amarah yang selama ini hanya menjadi beban didalam hati dan otakku. Aku juga bisa menangis sejadi-jadi nya tanpa harus orang tau karena air mata yang keluar dari mataku menyatu bersama air hujan yang mengguyur semesta beserta tubuhku hingga basah kuyup. Luka itu seakan hilang terbawa deras nya air hujan di malam kelam yang hanya berteman dengan sepi.

Saat aku mulai sibuk dengan rutinitas di kehidupanku kenapa kamu datang dengan memperlihatkan penyesalan yang menggebu-gebu didalam dirimu? Kau mengatakan rindu kau meyakinkan aku seakan akulah yang sebenarnya pantas untukmu. Kamu, selalu gentayangi aku, setiap malamku, setiap tidurku. Kamu ajarkan aku menahan rasa sakit di dalam diri ini agar aku terbiasa. Terkadang aku berpikir tak peduli seberapa sering kamu menyakiti aku dan membuat aku menangis. Aku hanya ingin menjaga senyum mu. Senyum indahmu.

Tapi, kenapa kau ajarkan aku mengingat masalalu, bahkan kamu menyeret aku ke dalam masa lalu yang seharusnya aku lupakan. Kamu datang seakan sosok mu nyata menjelma menjadi pahlawan kesiangan yang menghancurkan kebahagiaanku. Kapan kau ajarkan aku kebebasan? Siapa aku dimatamu? Kapan boneka kecilmu ini merasakan kebebasan dunia luar tanpa harus tersakiti oleh cinta. Kapan wayang yang sering kau mainkan ini bebas berekspresi seolah aku akan mati diesok hari. Apa melihatku menangis bahagia untukmu? Apa melihatku terluka menghasilkan tawa yang terbahak-bahak dari bibirmu? Ajarkan aku bebas. Ajarkan aku bahagia agar aku tak mengenal cinta. Agar hatiku mati rasa akan luka.

Kepadamulah penuh kebencian. Aku benci tersenyum sendiri ketika kau bertindak bodoh. Aku benci menebak–nebak tiap kata yang kau lontarkan untukku yang terkadang hanya membuatku semakin berharap agar kau kembali menjadi milikku. Aku benci membuatmu tertawa. Aku benci menjadi lunak didepanmu. Aku benci memperhatikan detailmu. Detail yang kusimpan seperti kepingan puzzle. Hingga kelak membentuk figure dirimu yang kukenal. Aku benci bersusah payah mencari cacatmu, keburukanmu. Meski mungkin kau bisa saja sempurna. Aku benci bertanya–tanya. Aku benci berandai–andai. Aku benci mengetahui kau ada. Kalau kau ada hanya untuk menyakitiku. Logika berontak menghalangi hati. Tapi hati mati–matian membela diri. Aku benci kehilangan. Aku benci bersamamu, saat kau tidak peka. Aku benci mencintaimu. Aku benci berpura – pura tak peduli. Aku benci dirimu. Demi Tuhan aku benci jatuh cinta padamu.

Sebenarnya aku ini kau anggap apa? Sesekali kau mengemis, sesekali kau berlaku sadis, sering kali kau baik, sering kali kau picik. Bisakah kau berhenti menjadikan aku boneka? Aku seperti benda mati yang bisa dengan seenak nya kau sakiti sesuka hati. Aku layaknya robot yang tak berperasaan yang dapat kau bodohi kapanpun kau mau. Kali ini aku sadar bahwa aku hanya kau anggap sampah, kau perlakukan aku seperti seseorang yang tak pantas kau hargai sama sekali. Kau berubah. Berubah menjadi seseorang yang ku takuti. Menjadi manusia lain yang tak pernah aku ketahui dan tak pernah aku kenali.

Aku sadar, kamu datang kepadaku hanya saat kekasihmu yang sangat kamu cintai tak ada bersamamu. Kamu datang kepadaku menanyakan kabarku hanya saat kamu merasa kesepian. Sebenarnya kamu tidak pernah merasa benar-benar membutuhkanku, menyayangiku, mengasihiku sepenuh hatimu.

Ceritakan padaku apa yang sudah kamu dapatkan dari dia? Biarkan aku tertawa untuk beberapa lama. Tidak penting, yang aku tahu, kamu sudah mendapatkan penggantiku. Seharusnya kamu tak lagi mengerjarku bukan? Nyatanya? Kamu masih terlalu lemah untuk menghancurkan kenangan kita. Benar kan? Berhentilah menggelitik telingaku dengan gombalan mu. Aku paham jika saat kita berpisah namun kamu masih sering berlari ke arahku, kamu belum benar-benar ikhlas melepaskan ku.

Kapan kamu mengikhlaskan ku sayang? Bukan kah kamu muak dengan semua pertanyaan ku, dengan semua amarahku saat ada seorang wanita yang mendekatimu, dengan sikap dan cara posessif ku untuk menjagamu. Bukan kah kamu muak dengan semua itu? Lantas, kenapa kau masih mengejar bayanganku? Dengar aku sayang. Berhentilah menghubungiku dan membohongiku. Ingat dengan ikatan mu dengan kekasih baru mu? Tenanglah, aku tak akan bercerita tentang keburukan mu kepada orang-orang ataupun kepada kekasihmu. Karna aku bukan dirimu yang selalu menyeret seseorang kedalam cerita palsu agar dia ikut terbodohi. Maka biarkanlah kekasih barumu merasaskan betapa mengenaskan nya dirimu orang yang dulu dia yakini. Biarkan kekasih barumu mengetahui dan memahami bahwa kamu orang yang tidak pantas untuk dicintai. Kau hanya seorang pria yang pandai merayu dan pandai menciptakan cerita lugu. Akan ada waktunya dia tersakiti oleh sikapmu dan menangis terpojok, menyesali pilihan yang sempat ia percayai.

Semakin lama aku semakin yakin bahwa aku sudah tidak bisa mengimbangimu. Aku hanya masalalu yang mencoba menyadarkanmu. Karna mungkin kamu lupa. Ada seseorang yang membiarkan air mata nya terbujur kaku dipipinya. Hanya karna dia tak ingin melihat perubahanmu, hanya karna dia mencintaimu.

Tenanglah, tak perlu memperhatikan ku lagi. Aku terbiasa tersakiti kok, terutama jika sebabnya itu adalah kamu. Tidak perlu basa-basi aku bisa sendiri tanpa harus ditemani olehmu. Dan, kamu pasti tidak sadar aku sedang berbohong jika aku bisa dengan mudahnya melupakanmu. Menjauhlan aku hanya ingin dekat-dekat dengan kesepian saja, disana lukaku dapat terobati, disana aku tidak dapat menemukan orang seperti dirimu, yang berganti-ganti topeng dengan mudah nya dan melontarkan kata-kata sayang dengan mudahnya.

Waktu merangkak dengan cepat, merangkak yang kita kira lambat ternyata bergerak seakan tanpa jerat. Semua telah berubah. Begitu juga aku, begitu juga kamu, begitu juga kita. Bahkan waktu yang telah menghapus kita yang pernah merasa tak berbeda. Waktu memutarbalikan fakta yang dulu sempat menjadi indah. Namun pada akhirnya waktu juga yang akan menentukan akhir cerita ini. Akhir cerita kita. Kamu tak berhak menebak. Begitupun aku.

Aku tak tahu dan tak mau memikirkan keadaan yang tak mungkin kembali. Semua sudah jelas, namun entah mengapa aku masih sulit untuk memahami nya. Kenapa harus kita yang alami? Tak adakah yang lain? Aku dan kamu bukan orang jahat, namun kenapa aku dan kamu terus saja disakiti oleh keadaan.  Bukankah diluar sana masih banyak orang jahat?

Jangan tanyakan padaku jika senyumu tak sama dan tak seindah dulu. Jangan salahkan aku jika pelangi di dalam duniaku hanya tersedia hitam dan putih. Setelah kamu tinggalkan aku. Semua berubah, semua berbeda. Aku bahkan tak mengenal diriku sendiri, karna separuh yang ada dalam diriku sudah berada di dalam dirimu. Yang pergi dan entah kapan kembali. Namun beginipun aku bahagia. Bahagia di dalam luka. :’)

 

                                                         *** *** *** ***

Karya-Nya sungguh luar biasa

Liburan. Apa yang dinantikan setelah belajar disekolah selama kurang lebih 6bulan, ya liburan. Menghabiskan waktu hanya untuk sekedar menenangkan fikiran dari semua pelajaran yang membuat penat otak ini,termasuk menenangkan fikiran setelah banyak memikirkan kamu yang semakin jauh dari genggaman jemari kecil ku ini. Aku dan temanku berbincang menentukan kemana kita akan liburan, kami menentukan santolo. Karna malam hari nya kami akan berangkat semua prepare saat malam datang kita berangkat. Diperjalanan kita masih biasa menanggapi pemandangan yg ada masih perkotaan tapi saat kami sudah memasuki kota garut lebih tepatnya di cikajang aku liat keluar mobil dan saat aku tengok ke atas “subhanallah keren banget” hanya kata-kata itu yg keluar, Ya, bintang dan bulan yg muncul teramat sangat banyak seakan mereka menyambut kedatangan ku ke garut kali ini. Tidak lama kamipun sampai di pantai sasntolo kami langsung mencari penginapan untuk sekedar melemaskan badan yg sudah hampir duduk selama 6jam di dalam mobil. Saat pagi sudah tiba kamipun memilih langsung ke pantai dan yaTuhan Ayu ga abis pikir “Ini semua karya-Mu? Sendiri? Untuk kami? Yg kadang lupa mengucap syukur setelah apa yg kau berikan pada kami?” betapa baik nya Tuhan kami meski kami kadang tak pernah menuruti apa kemauan nya. Kami menikmati indahnya pasir putih dan deburan ombak yang memanjakan pendengaran kami. Hingga seharian penuh kami dimanjakan oleh karya Tuhan yg indah sangat indah. Kami terlelap tidur dengan hening nya malam di penginapan yng berada tepat di depan pantai santolo. Keesokan harinya kami bersiap untuk pulang kami memilih menempuh jalan berbeda dengan saat kami datang. Kami dimanjakan dengan pemandangan yg indah dan saat aku tidak memperhatikan pemandangan itu ada satu pemandangan yg membuatku tertegun. Tebing, deburan ombak yg menumpuk, pasir putih, pohon kelapa sawit. “Tuhan kau menciptakan ini semua sangat indah. Aku tidak habis fikir kau menciptakan ini sendirian, betapa besar kuasa-Mu Tuhan. Aku sangat bersyukur atas semua yg kau berikan” hanya perkataan syukur dan gelengan kepala ke kanan dan kekiri saat aku melihat semuanya. Aku tertidur membayangkan semua karya-Mu. Aku terbangun saat ada di puncak entah puncak mana tapi lagi lagi karya-Mu membuatku diam tertegun memandang semua keindahan pegunungan, perkebunan, bahkan embun yg menutup pandangan kami saat di perjalanan. Diam menikmati apa yg Tuhan tampil kan di perjalanan kami pulang, saat kami sampai di bandung, aku ingin cepat pulang menyapa keluargaku dan menceritakan betapa besar nya karya-Mu itu. Tuhan atas segala Kuasa-Mu :)

Sakit saat rasa rindu ini menyeruak.

Rindu? Rindu itu sederhana bukan? Aku merindukan mu dengan sederhana. Tapi, kenapa semakin rasa rindu ini menyeruak di dalam diriku kenapa semakin sakit yg aku rasakan? Apa kau merasakan hal yang sama dengan apa yang saat ini aku rasa?
               Dimana dirimu? Baik kah keadaanmu? Apa kau merasakan setiap do’a yang aku kirim untukmu? Rindu ini menyakiti batin ku, apa aku harus tetap berpura-pura baik-baik saja saat aku merasakan sakit karna merindukanmu? Apa aku harus tetap berpura-pura saat aku tau kau sudah menemukan seseorang yang bisa membuatmu merasakan bahagia selalu? Beri aku beberapa patah kata agar aku bisa tetap bertahan untuk tidak memperdulikan mu.
                Salah jika kau berfikir aku melupakan mu dengan mudahnya, aku hanya tak ingin terlihat berlebihan saat aku ingin kau tetap berada disampingku. Ketahui dan sadarilah hati ini tetap milik mu tanpa kecuali. Meski kau tak ada disampingku tapi do’a ku yang paling terbaik selalu menyertai mu hingga Tuhan yang akan menyatukan kita lagi.
                Bagaimana mungkin aku mencari cinta yang lain saat aku merindukan mata yg biasa menatapku dengan keindahan. Rasa ini akan abadi, sekarang, besok sampai kematian.
                 Haruskah aku katakan seberapa besar rasa sakit karna merindukanmu? Harus aku ceritakan dan tunjukan pada siapa saat aku hanya harapkan kamu yang akan mengerti dengan sendirinya. Kau akan temukan jalan untuk kembali padaku, jika tidak pun Tuhan yang akan menyatukan kita dengan kuasa-Nya. Aku percaya Tuhan tau yang terbaik buat kita.
                  Semoga kau tau dan merasakan, tengok ke belakang saat kau membutuhkanku. Aku akan selalu ada di belakang mu saat kau merasa sendiri :’)

We make Tumblr themes